10 Dec 2015

Tentang Peta Lagu Tradisional Indonesia

Hokky Situngkir launch. Doc. KOMUNIKA ONLINE

Hokky Situngkir launch. Doc. KOMUNIKA ONLINE

KOMUNIKA, JakartaSebuah ungkapan menyebutkan, "Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan Indonesia." Rasanya benar. Negeri ini tidak cuma cantik, tapi kaya akan lagu daerah dengan bahasa dan langgamnya masing-masing. Lagu-lagu tradisional ini diturunkan dari generasi ke generasi.

Sayangnya, saat ini tinggal sedikit lagu tradisional Indonesia yang masih kerap dinyanyikan. Karena itulah kita berharap kepada Hokky Situngkir, peneliti Surya University. Ia telah mendokumentasikan, bahkan memetakan, lagu-lagu daerah dari Aceh hingga Papua. Daftar lagu dalam databasenya lebih dari 1.070 buah dan jumlahnya masih akan terus bertambah.

Pada hari Sumpah Pemuda 28 Oktober lalu "Peta Lagu Tradisional Indonesia" itu diluncurkan. Masyarakat dapat menikmatinya melalui ponsel Android dan iOS di http://tiny.cc/androidMusik dan http://tiny.cc/iOS-Musik. 

"Peta ini berbeda dengan sekadar list lagu tradisional," ujar Hokky, tentang peta lagu yang digarapnya bersama Bandung Fe, lembaga penelitian kompleksitas sosial yang ia pimpin. Peta, kata dia, sanggup secara ilmiah menunjukkan persaudaraan dan kekerabatan musikal di Kepulauan Indonesia. Ketika lagu "Rasa Sayang Sayange” diklaim oleh negara lain, peta ini sanggup membuktikan bahwa lagu itu benar milik Indonesia.

Sebelumnya, bersama Bandung Fe, Hokky juga menghasilkan buku Fisika Batik yang fenomenal. Berikut cuplikan wawancara Hokky, yang juga cucu komponis L. Manik, pencipta lagu Satu Nusa Satu Bangsa, dengan Komunika pertengahan November lalu: 
Anda sebenarnya mencintai musik, tapi saat mahasiswa mengambil Teknik Elektro di ITB… 
Mungkin jalan hidupnya saja yang membawa ke arah Fisika dan lajur pendidikan Elektroteknika.

Mana yang lebih Anda cintai: musik atau fisika?
Saya hanya bisa bilang bahwa saya menggandrungi penelaahan ilmu pengetahuan atas berbagai aspek keseharian kita.

Itukah yang membuat Anda dan teman-teman membuat peta lagu tradisional Nusantara? 
Saya adalah peneliti kompleksitas social, dan aspek terkompleks dalam sistem sosial adalah budaya. Di dalam budaya semua ikhwal sosial secara fundamental terangkum, mulai dari ekonomi hingga politik, mulai dari etika hingga estetika. 
Karena tak mungkin melakukan penelitian sains tanpa data, kami berinisiatif membangun web www.budaya-indonesia.org, sebuah perpustakaan digital budaya Indonesia yang terbuka untuk siapapun memberikan submisi data dan dokumentasi budaya. Di antara data-data tersebut adalah data batik, arsitektur, dan lain sebagainya, termasuk lagu-lagu tradisional Indonesia. Salah satu aspek terpenting ketika data telah di tangan adalah “memetakan” data-data yang sudah ada. Ini yang memotivasi kerja pemetaan lagu tradisional itu. 

Adakah peta itu juga terkait dengan klaim Malaysia atas lagu Rasa Sayange? 
Motivasi dari pemetaan ini tak memiliki motif apapun di luar keinginan untuk menelaah lebih jauh musikalitas orang-orang di Kepulauan Indonesia dalam apreasiasi ilmu pengetahuan atas lagu-lagu tradisional Indonesia. Jadi sama sekali tidak ada kaitannya dengan keramaian di media massa dalam berbantah-bantah tentang Rasa Sayange di Malaysia beberapa waktu silam itu.

Apa perbedaan peta ini dengan, misalnya, daftar lagu tradisional Nusantara? 
Peta ini tentu berbeda ya, dengan sekadar list lagu tradisional. Kami melakukan pemetaan secara matematis dan komputasional atas unit elementer terukur yang menyusun lagu-lagu tersebut. Jadi di dalamnya dapat terlihat berbagai informasi terkait “kekerabatan” apresiasi lagu di Indonesia. 

Apakah definisi lagu Nusantara dalam peta ini? 
Definisinya sebenarnya agak “terbuka”, yaitu bahwa lagu-lagu yang terdaftar dalam pemetaan tersebut mengandung nilai tradisi budaya masyarakat. Umumnya lagu-lagu tersebut tak memiliki penggubah (komponis), tapi memang secara organis tumbuh dalam keseharian masyarakat tradisional kita sebagai bagian warisan budaya. Semua lagu dipetakan berdasarkan sekuen-sekuen nada yang digunakan dan durasi masing-masing nada tersebut dibunyikan dalam lagu. Jadi sebuah lagu bisa saja pentatonik dan bisa pula diatonik dalam perspektif tangga nada musik. 

Sudah berapa persen lagu Nusantara yang dimasukkan ke dalam peta?
Terdapat lebih dari seribu lagu-lagu yang ada dalam repositori kami, dan kami memilah-milah sekitar hampir 300 yang dimasukkan dalam visualisasi pemetaan. Ini dilakukan semata-mata dengan constraint yang terkait kemudahan visualisasi. Saya kira jumlah itu masih sangat sedikit.

Bagaimana bila ada pembaca yang ingin menginformasikan lagu tradisonal yang belum masuk daftar? 
Mudah sekali. Tinggal mendokumentasikan lagu tersebut dalam format digital dan di-upload ke Perpustakaan Digital Budaya Indonesia www.budaya-indonesia.org. Seyogyanya data-data yang di-submit memiliki informasi-informasi dasar yang menjadi ketentuan di web tersebut.

Bagaimana lagu-lagu itu diproses?
Tiap lagu diproses secara komputasional dalam bentuk sekuen-sekuen nada dan durasi masing-masing nada dibunyikan, lalu dikalkulasi variabel-variabel seperti pola distribusi penggunaan nada-nadanya, efek putaran dan “spiral” dari naik turun nada yang digunakan. Di samping itu dikalkulasi pula faktor-faktor keteraturan dan ketakteraturan dari nada-nada tersebut mulai dari nada pertama hingga akhir. Kita tahu bahwa semua lagu selalu ada bagian perkenalan/pengantar, hingga “resolusi” di akhir lagu, sedemikian sehingga lagu tersebut enak didengar. Variabel-variabel ini yang kita sebut sebagai unit “geometris” dari lagu, dan menjadi elemen-elemen untuk memetakan antara satu lagu dengan lagu yang lain .

Itukah yang dimaksud dengan “DNA” lagu? 
Karena pemetaannya yang mirip dengan pemetaan dalam kajian biologi evolusioner, ada yang menyebut ini sebagai “DNA”-nya lagu. Kita tahu bahwa DNA adalah informasi terkecil biologis yang membedakan antara satu individu biologis dengan yang lain. Hal ini tentu hanyalah pengibaratan dan metafora. 

Bagaimana pola umum dan pola khusus lagu-lagu tradisional Indonesia berdasarkan peta geometris itu?
Yang kita lihat dari Peta Lagu tersebut adalah pola pengelompokan dari masing-masing lagu. Menarik melihat bahwa ada konjektur pengelompokan-pengelompokan terkait etno-geografis dalam peta tersebut. Kita belum bisa mengklaim bahwa pengelompokkan itu karena faktor spesifik sosial, namun polanya dapat terlihat secara visual. Pola-pola pengelompokan yang khas itu terbentuk mungkin karena perbedaan cita-rasa musikal dari masing-masing kelompok etno-geografis dalam bersenandung untuk berbagai tema dalam hidup sehari-harinya.

Apa hal tersulit dalam melakukan pemetaan ini?
Kesulitannya justru adalah dalam pengumpulan data lagu-lagunya. Data lagu-lagu yang terkumpul adalah bahan baku untuk berbagai uji hipotesis yang terbuka untuk kita lakukan, termasuk ikhwal pemetaan. Adapun semua proses dilakukan secara komputasional, dengan menggunakan algoritma pengolahan informasi di dalam lagu di komputer. 

Berapa lama proyek ini akan dikerjakan? 
“Peta Lagu Tradisional di Kepulauan Indonesia” ini adalah aparatus dari penelitian dan riset berkelanjutan, sehingga sistematika kerjanya bukan seperti kerja bisnis pada umumnya. Komunitas Sobat Budaya, yang merupakan entitas non-peneliti yang terlibat dalam kerja ini, misalnya, hingga saat ini masih terus melengkapi Perpustakaan Digital Budaya Indonesia di www.budaya-indonesia.org, di samping tentu peneliti-peneliti di Bandung Fe Institute, dan Research Center for Complexity di Surya University. 

Pembiayaannya bagaimana?
Saya bisa saja mengatakan bahwa hampir tak ada sepeser pun biaya yang diperlukan untuk membuatnya. Tapi saya bisa juga mengatakan biayanya luar biasa besar, sebesar urunan kerja-kerja pendataan budaya di www.budaya-indonesia.org, yang memang menjadi fokus besar beberapa tahun terakhir di Bandung Fe Institute. 

Apa lagi yang sedang disiapkan? 
Perkembangan terkait data-data budaya yang dikumpulkan, bahkan di luar lagu tentu masih dan sedang dikerjakan, mulai dari anyam-anyaman, tenun, batik, pola birokrasi tatanan sosial tradisional, hingga kuliner. Kita tidak sedang “mempersiapkan” sesuatu yang spesifik, kok, hanya ingin melihat dan turut merayakan keberagaman yang di kepulauan yang kaya budaya ini. Harapannya tentu adalah sumbangsih bagi ilmu pengetahuan, kenusantaraan, dan kemanusiaan. 

Benarkah musik dapat meningkatkan kecerdasan?
Ada Filsuf dan Matematikawan yang mengatakan “musik itu seperti berhitung tanpa sadar bahwa kita sedang berhitung”. Jadi kalau sesuatu yang abstrak seperti berhitung, dilakukan “tanpa sadar”, bukankah itu merupakan sesuatu yang cerdas? 
Musik tradisional juga bisa mencerdaskan?
Hal itu tentu tak berlaku hanya pada musik modern, tapi juga musik-musik tradisional.

Apa tantangan terbesar bagi lagu tradisional?
Adanya peluang kepunahan atau setidaknya menjadi terlupakan seiring industriliasi musik global, meskipun sebenarnya kita tahu lagu-lagu tradisional sangat besar potensinya untuk turut serta dalam blantika musik dunia. Karena musik adalah “bahasa” ekpsresi yang universal, kalau kita lupa lagu tradisional kita, ya kita bisa jadi nanti lupa berekspresi sesuai dengan identitas kita. 

Ada saran agar lagu tradisional mendapat tempat di masyarakat?
Peran semua elemen masyarakat perlu didorong. Seniman misalnya dapat mencoba “menumbuhkan” lagu tradisional dalam lanskap musik modern. Teoretisi mungkin juga perlu didorong, karena peran teoretisi musik sangat besar dalam perkembangan berbagai genre musik di dunia, baik pop, klasik, hingga jazz. Bukankah budaya itu maju karena “diperbincangkan”, diteorikan? Jika aspek budaya hanya menjadi pelengkap dari tata kebiasaan hidup modern, maka ia akan mengalami kesulitan dalam perkembangannya. 

Menghabiskan masa kuliah di Bandung, Anda suka lagu Sunda? 
Saya punya banyak lagu favorit, tak akan cukup kalau disebut satu per satu hehe… (tertawa). Dan, benar, saya sangat suka lagu-lagu tradisional Sunda bahkan mungkin sejak sebelum tinggal di Bandung. 

Anda cucu L. Manik, pencipta lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan filolog (ahli bahasa) Batak kuno. Ia ikut memberi pengaruh?
Mungkin saja begitu. Sewaktu kecil suka mendapat playlist untuk dicoba dengar dan cerna dari almarhum. Sedikit banyak tentu hal itu memberi pengaruh. 

Apakah Anda merasa sebagai orang yang selalu beruntung-- terkait nama Anda?
Hehehe, nama itu katanya adalah harapan ya. Entahlah, tapi yang jelas, orang yang merasa beruntung adalah seyogianya mereka yang merasa berutang. Saya merasa beruntung sebagai bagian dari masyarakat di Kepulauan Nusantara yang berkesempatan meneliti banyak hal di sini.

Karenanya mungkin juga jadi merasa “berutang” pada semua pihak yang mendukung, dan “utang” itu barangkali mesti dibayar dengan lebih semangat lagi dalam melakukan penelaahan dan penelitian. 

IKA CHANDRA W | Diah Ayuningtyas

Peristiwa
Hadapi PS TNI, Persib Belum Bisa Mainkan Maitimo dan Van Dijk

Hadapi PS TNI, Persib Belum Bisa Mainkan Maitimo dan Van Dijk

Rafael Maitimo dan Sergio Van Dijk disebut belum dalam kondisi fisik yang mumpuni untuk memperkuat Persib menghadapi PS TNI di Liga 1 Sabtu mendatang.