Pemberdayaan ‘Collaborative Learning’ di Kelas

Menghidupkan kembali ruang kelas. Doc. KOMUNIKA ONLINE

Menghidupkan kembali ruang kelas. Doc. KOMUNIKA ONLINE

KOMUNIKA, JakartaPembelajaran kolaborasi atau ‘collaborative learning’ (CL) merupakan pembelajaran dengan sifat sosial yang melekat pada pembelajaran. Hal tersebut tercermin melalui teorinya tentang zona pengembangan proksimal. Pembelajaran kolaboratif umumnya berlangsung ketika kelompok siswa bekerja sama untuk mencari pengertian, makna, atau solusi untuk membuat sebuah artefak atau produk pembelajaran mereka, baik membuat kondisi baru maupun memodovokasi yang asudah ada. 

CL pada prinsipnya adalah situasi pembelajaran di mana terdapat dua atau lebih orang belajar atau berusaha untuk belajar sesuatu secara bersama-sama. Orang yang terlibat dalam CL memanfaatkan sumber daya dan keterampilan satu sama lain. Lebih khusus, CL didasarkan pada model di mana pengetahuan dapat dibuat dalam suatu populasi yang anggotanya secara aktif berinteraksi dengan berbagi pengalaman dan mengambil peran asimetri (berbeda). Dengan kata lain, CL mengacu pada lingkungan dan metodologi kegiatan peserta didik melakukan tugas umum di mana setiap individu tergantung dan bertanggung jawab satu sama lain. Berikut contoh CL berdasarkan pengalaman penulis

1. Kolaborasi tugas antar matapelajaran 
Dua atau tiga buah mata pelajaran dapat memberi tugas kolaborasi kepada siswa dengan materi yang sama atau sejenis, sehingga tidak terlalu membebani siswa. Misalnya, tugas menulis surat atau menulis karangan singkat dalam bahasa Indonesia, dapat berkolaborasi dengan guru/mata pelajaran bahasa Inggris. Tugas membuat penelitian sederhana di laboratorium (IPA) dapat bekerja sama dengan guru/mata pelajaran bahasa Indonesia. Tentu saja sistem penilaian tetap pada koridor inti tugas masing-masing mata pelajaran. Penulis juga pernah berkolaborasi memberikan tugas melukis kaligrafi dengan guru Australia, yang kemudian menghasilkna kaligrafi bergaya lukisan aborigin. Bahkan kemudian karya ini menjadi lomba antarkelas karena tampak ‘baru’ dan khas. 

2. Kolaborasi teknik demonstrasi 
Kolaborasi ini pun prinsipnya sama, dapat dilakukan pada dua mata pelajaran atau lebih (maksimal tiga), dan terutama antara pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Guru bahasa Inggris menuliskan kalimat sederhana dalam bahasa Inggris dan membacakannya. Setelah itu guru bahasa Indonesia menuliskan dan membacakannya (terjemahan) dalam bahasa Indonesia. Kemudian, anak-anak membacakannya juga bersama-sama. Akan lebih seru lagi kalau pembelajaran ini juga dapat dinyanyikan, misalnya dengan gaya ‘rap’, tentu kelas akan lebih hidup dan ‘full joy learning’. 

3. Kolaborasi ‘dunia maya’ 
Dengan kecanggihan teknologi masa kini, pembelajaran pun dapat melalui dunia maya, baik menggunakan FB (facebook), Skype, dan lain-lain sejenis ‘cloud learning’. Dengan skype, kita mampu berkolaborasi, baik antardaerah maupun antarnegara. Tentu syarat utamanya masing-masing sekolah sudah memponyai koneksi internet (skype) yang baik. Ini dapat dilakukan oleh guru/mata pelajaran apa pun. 



Menurut para pakar pendidikan, secara teoretis, pembelajaran secara CL memiliki beberapa bentuk/variasi. Di antaranya yaitu: (1) Collaborative Networked Learning (CNL) adalah suatu bentuk pembelajaran kolaboratif untuk para pembelajar dewasa mandiri.; (2) Computer-supported collaborative learning (CSCL) merupakan paradigma pendidikan yang relatif baru dalam pembelajaran kolaboratif yang menggunakan teknologi dalam lingkungan pembelajaran untuk membantu menengahi dan mendukung interaksi kelompok dalam konteks pembelajaran kolaboratif; (3) Learning Management Systems (LMS) adalah konteks yang memberikan makna pembelajaran kolaboratif tertentu.



Dalam konteks ini, pembelajaran kolaboratif mengacu pada kumpulan alat yang peserta didik dapat digunakan untuk membantu, atau dibantu oleh orang lain.; (4) Collaborative Learning Development (CLD) memungkinkan pengembang sistem pembelajaran untuk bekerja sebagai sebuah jaringan. Secara khusus hal ini relevan dengan e-learning di mana pengembang dapat berbagi dan membangun pengetahuan di program studi dalam lingkungan kolaboratif; (5) Collaborative Learning in Virtual Worlds (CLV) adalah Virtual Worlds yang menurut sifatnya diharapkan memberikan kesempatan yang sangat baik untuk pembelajaran kolaboratif. Sekarang pembelajaran kolaboratif berkembang sebagai perusahaan yang mulai memanfaatkan fitur unik yang ditawarkan oleh ruang dunia maya.



Dalam bentuk ‘manual’ di dalam kelas, pembelajaran CL dapat berupa : (1) AC (Academic-Constructive Controversy). Pada metode ini setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain.; (2) CIM (Complex Instruction Metod). Pembelajaran yang orientasinya pada temuan. Biasanya CIM digunakan pada bidang studi sains dan matematika; (3) CLS (Cooperative Learning Stuctures). Pada penerapan metode pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua peserta didik (berpasangan). Seorang peserta didik bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee; (4) CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition). Pada metode pembelajaran ini mirip dengan TAI. Metode pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa.



Dalam pembelajaran ini, para peserta didik saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya; (5) JM (Jigsaw Metod). Merupakan proses yang dibentuk berkelompok. Masing-masing diberi tugas berbeda namun masih dalam satu poko bahasan. Agar terbangun kesatuan menyeluruh meski dengan tugas berbeda, maka saat evaluasi, tes atau bentuk evaluasi lainnya diberikan dalam bentuk materi yang menyeluruh, namun penilaian didasari pada rata-rata skor tes kelompok; (6) GI (Group Investigation). Pada metode ini semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi; dan (7) LT (Learning Together).



Pada metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan peserta didik yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok; (8) STAD (Student Team Achievement Divisions). Peserta didik dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok bertindak saling mengajar dan membelajarkan. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu peserta didik lainnya; dan (9) TGT (Teams Games Tournament). Pada metode ini, setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasari pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok peserta didik. 



Apa pun bentuk pelaksanaannya dari CL, metode ini menekankan pentingnya bekerja bersama dalam komunitasnya. Dalam satu komunitas atau kelompok tidak terjadi persaingan, namun lebih kepada kerja sama demi tercapainya tujuan bersama. Dalam pembelajaran di kelas, ketika seorang pengajar melakukan hal ini, itulah yang disebut pembelajaran kolaboratif (collaborative learning). Selamat berimprovisasi dan berinovasi! 



Purhendi (Tutor FKIP pada UPBJJ-UT Purwokerto) 

Tutorial Lainnya

Pemberdayaan ‘Collaborative Learning’ di Kelas

Pembelajaran kolaboratif umumnya berlangsung ketika kelompok
siswa bekerja sama untuk mencari pengertian, makna, atau
solusi.

Peristiwa