18 Oct 2016

Gibran Chuzaefah, Petani Lele ke Petani Android

Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy, pencipta eFishery

Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy, pencipta eFishery

KOMUNIKA, Jakarta - Minggu yang sibuk bagi Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy. Meski masih banyak urusan yang harus diselesaikan di Indonesia sebagai CEO PT Multidaya Teknologi Nusantara, pertengahan September lalu ia juga harus terbang ke Guangzhou, Cina, untuk menghadiri pertemuan Global Aquculture Alliance (GAA). Organisasi internasional ini mengadvokasi peningkatan produksi akuakultur berkelanjutan, mulai pemberian pakan hingga menghasilkan produk perikanan. Gibran berkecimpung di salah satu rantai produksi perikanan yaitu pakan ikan.



Ia menciptakan eFishery, alat pemberi pakan ikan otomatis sehingga terjadwal dan dengan dosis yang tepat. Selain itu, dengan alat ini pemberian pakan akan tercatat dan data bisa diakses secara real-time. Teknologi eFishery bisa digunakan untuk berbagai jenis ikan budidaya, baik di air tawar maupun air laut, seperti ikan mas, nila, patin, lele, udang, kakap, dan lain-lain



Memulai terjun di budidaya perikanan sebagai peternak lele pada 2011, Gibran paham bahwa pemberian pakan adalah proses penting yang menyumbang 70 persen usaha budidaya ikan. Ikan tidak boleh terlambat diberi pakan, namun pemberian pakan secara berlebihan akan berpengaruh terhadap kualitas air. Sisa-sisa pakan dapat mengakibatkan polutan yang menyebabkan risiko ikan mati. Gibran memanfaatkan internet of things (IoT) untuk mengatasi masalah tersebut. Setelah melalui berbagai riset, teknologi eFishery akhirnya bisa dikemas untuk dimanfaatkan masyarakat. Omzet perusahaan yang berkantor di Bandung itu pada tahun lalu  Rp 1 miliar. eFishery juga telah meraih berbagai penghargaan baik di dalam dan luar negeri.



Gibran mengatakan, bidang agrikultur tidak banyak menarik minat. “Justru karena bidang ini tidak dianggap seksi, maka saya berminat terjun di dunia ini. Peranan ke kehidupan sangat besar,” ujar pria yang punya hobi membaca, naik gunung, dan travelling ini. Berikut petikan perbincangan dengan Gibran, pertengahan September lalu :



# Apa latar belakang Anda membuat teknologi efishery?



Sebelum memulai eFishery, saya juga pembudidaya ikan. Dari sana saya banyak berdiskusi dengan pembudidaya ikan lainnya. Saya melihat masalah pakan yang tidak efisien, tidak terkontrol, dan tidak bisa dimonitor. Masalah itulah yang awalnya menginspirasi untuk membangun teknologi ini.



# Berapa lama prosesnya?



Dari ide awal dan prototype pertama selesai sebenarnya di tahun 2012, tapi itu cuma alat otomatis yang diaktivasi via SMS. Pada akhir 2013 kami baru mulai mengembangkan serius teknologinya dan launch ke pasaran 1,5 tahun kemudian.



# Apa kelebihan eFishery?



Kelebihannya adalah smart feeding system yang bisa membuat pemberian pakan lebih efisien. Semua alatnya juga terhubung dengan mobile app, jadi bisa dikendalikan dari jarak jauh. Setiap pemberian pakan juga dicatat dan bisa dimonitor kapan pun dan dimana pun melalui HP atau komputer. Kami juga memberikan analisis dari data yang diambil sehingga para pembudidaya bisa mendapatkan insight lebih untuk improvement budidayanya.



# Teknologinya rumit dong?



Teknologinya cukup kompleks, karena kombinasi antara mechanical engineering, electrical engineering, IT, dan embedded system. Belum lagi algoritma yang kita gunakan berbeda-beda untuk setiap jenis ikan.



# Apakah teknologi ini merupakan pionir di bidangnya?



Bisa dibilang begitu



# Bagaimana cara kerjanya?



Semua alat dikontrol melalui aplikasi mobile berbasis android. Petani tinggal pilih ikan yang dibudidayakan, frekuensi pemberian pakannya, lalu nanti alatnya akan langsung beroperasi. Setiap pembelian atau sewa alat sudah kami sertakan smartphone yang juga sebagai remote control. Kemudian alatnya akan beroperasi sesuai jadwal. Alat ini terhubung dengan sensor yang bisa mendeteksi kapan ikannya kenyang. Jadi kalau ikan sudah kenyang, akan berhenti sendiri.



# Ada kerja sama dengan pihak lain untuk membangun eFishery?



Kalau membangun produk dari awal sampai sekarang banyaknya in-house. Sedangkan untuk manufaktur kami bekerja sama dengan beberapa vendor di Bandung dan supplier dari luar negeri juga. Untuk riset perikanan kami juga pernah bekerja sama dengan FPIK Unpad (Universitas Padjadjaran).



# Siapa saja yang menjadi target pengguna eFishery?



Pengguna teknologi eFishery berbagai macam, mulai dari pembudidaya kecil, menengah, sampai besar. Balai pemerintahan juga bisa menggunakan teknologi ini. Kami ada kerjasama dengan beberapa pihak seperti Balai Perikanan dan perusahaan pakan.



# Berapa harga efishery?



Harganya di kisaran Rp 6-7,5 juta. Produk kami cukup terjangkau, terutama karena ada sistem rental dengan biaya Rp 300 ribu per bulan yang bisa juga dibayar setelah panen. Jadi untuk pembudidaya yang tidak sanggup membeli,  tetap bisa memakai teknologi ini.



# Bagaimana penjualannya?



Sejauh ini fokusnya banyak di Jawa dan Sumatra dan sudah dibukukan ratusan unit penjualan dan rental.



# Siapa pesaing eFishery?



Pesaingnya sejauh ini ada beberapa perusahaan loal maupun luar negeri, tapi mereka umumnya cuma menggunakan timer saja.



# Bagaimana strategi agar semakin banyak pembudidaya ikan yang bisa menggunakan alat ini?



Ada berbagai macam cara, mulai dari roadshow ke petani, melakukan demo di lapangan, membuat strategi pricing yang cocok dengan target pasar, memberikan garansi performance produk, menyediakan pola pembayaran yang fleksibel, dan lain sebagainya.



#  Di lain sisi, kebanyakan petani/nelayan belum terlalu melek teknologi. Bagaimana menyiasati hal ini?



Yang pasti kami banyak melakukan demo di lapangan sambil menyediakan pola pricing yang mengurangi barrier petani untuk menggunakan alat ini. Dari sana kami mencoba mengumpulkan data dan success story yang nantinya bisa dipakai agar lebih banyak yang bisa memanfaatkan alat ini.



# Apa saja tantangan yang dihadapi?



Tantangannya berbeda di setiap tahap perusahaan. Di awal, tantangannya adalah bagaimana mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Setelah produknya jadi, tantangannya adalah mencari cara untuk upscaling manufakturnya. Lalu setelah mulai pemasaran, kami harus meyakinkan petani untuk mencoba alatnya. Dan saat perusahaan mulai tumbuh, kami menghadapi tantangan bagaimana untuk menarik sumber daya manusia terbaik untuk scaling company. Saat ini kami berhadapan dengan semua tantangan itu.



# Terkait pembiayaan, hingga saat ini sudah dapat pembiayaan dari mana saja?



Dari Aquaspark dan Ideosource.



(Aquaspark berbasis di Belanda sedangkan Ideosource merupakan venture capital asal Indonesia).



# Sejauh mana pembiayaan ini membantu eFishery?



Pembiayaan dari investor memiliki peran positif untuk menyediakan cash dan mendukung pertumbuhan perusahaan, terutama perusahaan teknologi seperti kami. Apalagi saat awal ketika  perlu investasi untuk pengembangan produk dan mencari pengguna. Kami jadi lebih leluasa untuk mengembangakan produk terbaik yang diinginkan oleh konsumen serta bisa menyediakan beberapa pola pricing yang lebih elastis untuk mendapatkan banyak pengguna.



# Pengembangan apa yang akan dilakukan eFishery ke depan?



Dari sisi produk, pengembangan yang kami lakukan adalah fokus pada penambahan sensor dan kompatibilitas produk terhadap spesies lain. Kami juga berencana menambahkan beberapa layanan tambahan di vertikal yang masih berkaitan dengan teknologinya. Sedangkan dari sisi pasar, kami berencana untuk melakukan ekspansi ke beberapa wilayah di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.



# By the way, apa sebenarnya cita-cita Anda?



Cita-cita saya ingin memberantas kelaparan dengan terjun di bisnis pangan. Sejauh ini masih sejalan.



# Secara pribadi, bagaimana Anda menghadapi berbagai tantangan dalam membesarkan eFishery?



Secara personal, yang saya hadapi lebih banyak adalah bagaimana mengembangkan kapasitas diri untuk menyelesaikan permasalahan yang berubah setiap waktu.  Apalagi sebagai first time founder yang sebelumnya belum pernah punya pengalaman di pekerjaan. Tantangan untuk menghadapi permasalahan baru di berbagai macam bidang  -manufaktur, produk, marketing, keuangan, investment, dan lain-lain juga menjadi hal yang paling sering dihadapi.



# Punya moto?



Hahaha… Ini, “Our biggest enemy is not failure, it is the temptation to be ordinary”.



 



IKA CHANDRA W.



 



 

Peristiwa