09 Nov 2016

Sastia Prama Putri, Pakar Metabolomik dari Bandung

Sastia Prama Putri, pakar metabolomik

Sastia Prama Putri, pakar metabolomik

KOMUNIKA, Jakarta - Mengetahui ilmuwan Indonesia berada di antara para peneliti yang menggeluti bidang-bidang baru sains selalu memunculkan optimisme, bahwa kita tidak tertinggal dalam perkembangan sains. Salah satu bidang sains baru itu adalah Metabolomik.



Metabolomik merupakan disiplin ilmu yang mempelajari metabolit, senyawa kimia yang terlibat dalam proses metabolisme mahluk hidup. Aplikasinya di antaranya untuk untuk pengembangan life science, kedokteran, hingga pertanian. Ilmu ini bahkan menjadi dasar untuk membangun biofuel atau kilang minyak dari tanaman, sebuah industri yang sangat penting di masa depan.



Di bidang ilmu masa depan ini ada Sastia Prama Putri. Sastia, 33 tahun, adalah dosen luar biasa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Alumni Biologi ITB tahun 2000 ini sehari-harinya mengajar di Osaka University, Jepang, dan kini menjadi asisten profesor bidang metabolomik universitas kelas dunia itu. Saat ini ia tengah menerapkan metabolomik untuk produksi biofuel, bahan bakar yang dipanen dari tanaman, selain meneliti metabolomik produk pangan asli Indonesia, seperti tempe, kopi, manggis, dan pisang. Atas kiprahnya dalam pengembangan metabomolik, Sastia meraih penghargaan L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2015.



Sastia yakin teknologi ini merupakan solusi untuk berbagai masalah di dalam negeri. “Saya berharap keahlian saya bisa berguna untuk memajukan industri di tanah air," ujarnya. Berikut ini petikan wawancara dengan Sastia via email yang diperkaya dengan bahan-bahan bacaan dari berbagai sumber, seperti berita ITB.



# Bagaimana aplikasi ilmu metabolomik saat ini dan bagaimana akan berkembang di masa depan?



Ilmu metabolomik bisa dibilang merupakan salah satu ilmu “omics” yang paling terakhir berkembang. Beberapa tahun ini aplikasi dan user-nya sangat meningkat. Di masa yang akan datang metabomolik akan menjadi salah satu cara pendekatan yang sangat penting di bidang life sciences dan bioteknologi.



 



Metabolomik berasal dari dua kata, Metabolom dan Omik, sebagai cara untuk melakukan analisis kuantitatif dan kualitatif secara menyeluruh terhadap semua molekul kecil yang berukuran kurang dari atau sama dengan 1500 dalton (Da) yang ada di dalam suatu sel, jaringan, atau organisme. Ukurannya sangat renik, karena satu kilogramsekitar 6 x 10+26dalton, lebih kecil dari polimer asam amino atau gula, yang tidak masuk ke dalam studi metabolomik.



Metabolit dibutuhkan mahluk hidup untuk pemeliharaan, pertumbuhan, dan fungsi normal suatu sel dan merupakan hasil interaksi sistem genom dengan lingkungannya yang ikut menentukan sifat biokimia dan fenotip suatu sel atau jaringan. Oleh karena itu, pengetahuan ini akan memberikan informasi dasar tentang respon biologi terhadap perubahan fisiologi dan lingkungan dan dengan demikian meningkatkan pemahaman biokimia seluler sebagai jaringan arus balik metabolit yang mengatur ekspresi gen dan protein serta memediasi sinyal antar organisme.



 



# Bagaimana penerapannya?



Saat ini metabolomik paling banyak diaplikasikan ke bidang ilmu kedokteran, namun menurut saya untuk Indonesia ilmu ini pun sangat berguna untuk food technology dan teknologi pertanian. Sudah banyak contoh aplikasi metabolomik yang menunjukkan manfaatnya di dunia medis, pertanian, life sciences dan engineering.



 



Pada tanaman obat, ilmu metabolomik diketahui telah berguna untuk meneliti kualitas tanaman obat hingga merekayasa zat aktifnya.Pada bidang pemuliaan tanaman, ilmu ini bahkan sudah diterapkan dalam perkawinan tanaman resisten atau tanaman hasil rekayasa genetik. Diketahui, pencarian bibit unggul dengan teknik perkawinan kerap membutuhkan waktu yang panjang, bermusim-musim tanam. Analisis metabolit dapat memberikan indikasi awal atas tanaman-tanaman yang diinginkan dengan melacak  kehadiran metabolit yang menjadi penanda (biomarker). Pada genetika, metabolomik adalah cara cepat dalam mengungkap fungsi gen yang belum diketahui atau mencari gen-gen yang bermutasi.



 



# Negara mana yang paling maju dalam pengembangan dan aplikasi ilmu ini?



Ilmu metabolomik saat ini berkembang pesat di Inggris, Amerika, dan Jepang dan beberapa peneliti di Uni Eropa. Karena spesialisasinya baik dalam bidang aplikasi maupun teknologi yang dipakai berbeda-beda, jadi kita tidak bisa mengatakan mana negara yang paling maju dalam ilmu baru ini.



# Bagaimana perkembangan ilmu ini di Indonesia?



Di negeri kita sudah ada beberapa kelompok riset yang berminat menggunakan ilmu ini. Sebenarnya sudah banyak juga lulusan doktor dengan keahlian dalam metabolomics, namun karena masih kendala infrastruktur dan dana jadi belum bisa berkembang banyak untuk meneruskan penelitian metabolomik di tanah air.



(Memang) biasanya kendalanya soal keterbatasan alat dan dana, karena biaya untuk set-up laboratorium metabolomik cukup besar, terutama untuk identifikasi senyawa dalam skala besar



# Apa saja yang krusial di lab metabolomik?



Untuk set up lab metabolomik perlu, misalnya, pengadaan advanced analytical instrumentatau instrument analitik nan canggih, Di antaranya spektrometri resolusi tinggi (high resolution mass spectrometry). Selain itu data yang dihasilkan dan harus dianalisis bisa sangat besar, big data, sehingga perlu database yang mumpuni untuk anotasi senyawa dan analisis datanya.



Jadi, settinguplab metabolomik di awal butuh dana riset yang cukup besar dan know how nya juga penting terutama untuk mengolah data.



# Sukar sekali, ya…



Menurut saya sudah banyak hal-hal positif dan program-program yang baru yang disiapkan pemerintah agar kita bisa lebih bersaing. Khusus untuk ilmuwan, menurut saya, budaya menulis publikasi internasional berkualitas tinggi harus lebih ditingkatkan lagi. Adanya insentif yang bagus untuk publikasi, seperti LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) Award dan sebagainya, sudah sangat baik untuk mendorong peneliti-peneliti di Indonesia untuk mempublikasikan hasil penelitiannya.



Sumber daya alam kita sangat kaya dan tenaga penelitinya juga banyak yang berkualitas, jadi saya optimis Indonesia akan lebih baik lagi ke depannya.



# Apa yang harus disiapkan perguruan tinggi untuk mencetak ahli ilmu ini?



Perlu lulusan doktor yang memang khusus dilatih segala hal soal metabolomik dan risetnya menggunakan metabolomik. Saya dan rekan-rekan yang punya peminatan sama di Indonesia banyak melakukan diskusi dan kolaborasi untuk memulai riset metabolomik di Indonesia.



# Ada kegiatan lainnya untuk mempromosikan metabolomik di tanah air?



Saya mengajar mata kuliah metabolomik di S1 Program Studi Mikrobiologi ITB sejak 2014. Saya juga lumayan sering, hampir setiap tahun, memberikan kuliah tamu di IPB (Institut Pertanian Bogor) tentang metabolomik. Sering juga saya berbicara di simposium atau konferensi internasional yang diadakan di Indonesia dan di sana saya bawakan topik metabolomik.



Bulan Agustus lalu juga kami baru mengadakan one day workshop metabolomics di Jakarta bekerjasama dengan ITB dan perusahaan Shimadzu dari Jepang. Lalu saya juga buat kompetisi Osaka University Metabolomics Student Award untuk mahasiswa Indonesia berlatih menulis proposal riset yang menggunakan metabolomik.



# Anda juga tengah meneliti metabolomik kopi, bukan? Bagaimana ceritanya?



Metabolomik itu kan ilmu yang menganalisa metabolit atau senyawa secara komprehensif dan global.Jadi kita bisa mendeteksi senyawa-senyawa yang berperan dalam menentukan kualitas dan cita rasa kopi. Misalnya kalau ingin tahu senyawa apa yang penting dalam specialty coffee yang grade-nya tinggi. Nah itu bisa kita tentukan lewat approach metabolomik.



Pendekatan metabolomik juga bisa dilakukan untuk pengujian dan standar mutu kopi. Pada kopi luwak, misalnya, untuk mengetahui keasliannya.



 



Kopi luwak adalah kopi termahal pada saat ini. Secangkirnya bisa ratusan ribu rupiah. Kopi ini istimewa karena sebelumnya sudah dimakan luwak (Paradoxurus hermaphroditus). “Rarity dan exclusivity yang membuat mahal,” kata Sastia awal tahun lalu, ketika mempublikasikan penelitian metabolomik kopi luwak.



Karena berharga mahal, kopi ini banyak dipalsukan. Oleh karena itu perlu metode standar untuk mengidentifikasi keasliannya. Melalui penelitian selama lima tahun berjudul Establishment of quality evaluation standard and authentication method of Kopi Luwak and various Indonesian specialty coffees by gas chromatoghraphy based metabolomics, Sastia mencari tahu keaslian kopi ini.



Melalui penelitian ini akhirnya ia menemukan biomarker yang membedakan kopi yang sebelumnya telah dicerna luwak dan kopi biasa.



 



# Penelitian apa yang sedang berjalan?



Saya sedang mengaplikasikan metabolomik untuk pengembangan produk makanan fermentasi dan produk pertanian Indonesia seperti tempe, manggis, pisang, dan kopi khas Indonesia.Tujuannya untuk membuat standar kualitas berbagai komoditi dan produk makanan asli Indonesia.



Selain itu juga riset tentang pengembangan biofuel. Ini adalah upaya untuk memproduksi bahan bakar dari tanaman.



 



Penelitian untuk memanen energi dari tanaman kian berkembang belakangan ini, sehubunbgan dengan makin menipisnya cadangan sumber energi. Dalam aplikasi metabolomik untuk synthetic biology atau metabolic engineering, Sastia tengah meriset peggunaan mikroba sebagai cell factory untuk produksi bahan bakar dan kimia industri, selain penggunaan metabolomik untuk pencarian organisma unggulan.



 



# Bagaimana ceritanya hingga bisa melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di Jepang dan menjadi asisten profesor?



Saya mendapat beasiswa penuh dari pemerintah Jepang untuk S2 dan S3 di Osaka University. Kemudian setelah S3 saya bekerja sebagai postdoc di lab metabolomics tempat saya bekerja sampai sekarang. Alhamdulillah dipercaya sebagai asisten profesor di departmen saya setelah postdoc.



# Apa yang paling menyenangkan dengan menjadi dosen dan peneliti?



Saya senang kalau ilmu yang saya pelajari bisa berguna untuk orang lain. Itu sih yang paling membuat saya bahagia kalau ilmunya bermanfaat dan bisa dibagi.



 



Dalam kesempatan terpisah, ia pernah mengatakan ayahnya ikut memberi pengaruh atas pilihannya menjadi dosen dan peneliti. “Saya selalu ingat kata-kata bapak saya apapun profesi yang saya pilih, saya harus jadi orang yang berguna. Saya melihat profesi dosen dan peneliti itu bisa berguna untuk orang banyak,”ujarnya. Ada alasan lainnya. “Saya senang mengulik misteri kehidupan dan setiap discovery yang saya temukan lewat dunia riset menurut saya sangat menyenangkan.”



 



# Berada di negeri orang, bagaimana cara menikmati ‘me time’?



Terus terang me time nya sedikit sekali, karena saya selain jadi ibu rumah tangga dan istri juga kerja full time. Kalau saya ada waktu luang,  kebanyakan sama keluarga. Kalau untuk diri sendiri saya suka membaca bacaan ringan atau dengar musik dan window shopping.



# Ada target selanjutnya untuk karir atau pribadi?



Saya berharap bisa punya karir akademik yang baik dan menghasilkan publikasi dan hasil riset yang berkualitas. Untuk itu saya berusaha untuk selalu melakukan yang terbaik, day by day. Adapun untuk pribadi sepertinya saya tidak terlalu banyak keinginan sih. Saya sudah bersyukur dengan apa yang saya punya sekarang.



 



IKA CHANDRA W.

Peristiwa