13 Jan 2017

Muhammad Firdaus, Menyiapkan Petani Era Digital

Muhammad Firdaus (IPB), Pencipta SIKUH

Muhammad Firdaus (IPB), Pencipta SIKUH

KOMUNIKA, Jakarta - Pertanian merupakan bidang yang berurusan dengan apa yang kita makan sehari-hari. Ada banyak permasalahan di bidang ini, salah satunya, membanjirnya produk buah impor. “Kita terlambat memberi perhatian pada bidang hortikultura. Akibatnya, saat permintaan produk buah dan sayur tinggi, kita tidak bisa memenuhinya sendiri,” ujar Muhammad Firdaus, peneliti dan dosen Institut Pertanian Bogor (IPB).



Ahli ekonomi ini ingin agar lebih banyak orang mengusahakan hortikultura dengan baik sekaligus paham hitung-hitungan ekonominya. Salah satu yang dilakukan pria kelahiran Muara Bungo, 5 Januari 1973 ini adalah membuat Sistem Informasi Kelayakan Usaha Hortikultura (SIKUH). Ini merupakan perangkat lunak tentang tata cara penanaman beberapa komoditi hortikultura lengkap beserta analisis ekonominya. SIKUH yang memanfaatkan media internet ini menurut Firdaus adalah perkawinan antara teknologi dan tahapan-tahapan dalam budidaya pertanian hortikultura beserta hitungan ekonominya.



SIKUH beberapa waktu lalu meraih Anugerah Kekayaan Intelektual Nasional (KIN) yang diberikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Hingga saat ini SIKUH memiliki enam hak cipta untuk komoditas pepaya, pisang, melon, kentang, cabai, dan tomat.



Firdaus sendiri telah menjadi peneliti pertanian terutama hortikultura sejak  lulus S1 pada 1996. Pria yang meraih gelar guru besar pada 2013 di usia 40 tahun ini juga kerap menuangkan pemikirannya di media massa. 



Sore hari saat gerimis kami berbincang di Sekolah Bisnis Insitut Pertanian Bogor. Sesekali pembicaraan kami dipotong mahasiswa yang meminta waktunya untuk berkonsultasi. Selesai wawancara, ada enam mahasiswa yang menunggunya. Berikut petikan perbincangan dengan Firdaus:



# Bagaimana ide untuk membuat SIKUH muncul?



Bidang saya adalah ekonomi. Selama ini, mereka di agronomi atau hortikultura selalu berpikir bagaimana menanam dengan menggunakan SOP (Standar Operasional Prosedur). Padahal, SOP itu tahapannya panjang sekali, bisa lebih dari 30 langkah. Sebagai contoh, misalnya orang ingin menanam cabe, tahapannya mulai dari mencari lahan, membuka lahan, membuat lubang tanam, lalu menanam benih, memupuk, mengendalikan hama, panen, penanganan paska panen, dan seterusnya. Setiap tahapnya ada standarnya.



Lalu, kalau kita melaksanakan SOP tersebut, bagaimana kelayakannya secara ekonomi.



Persoalannya lagi, jika secara teknis kita ingin mensosialisasikan SOP itu ke pengguna, kalau dalam bentuk buku mesti dicetak dengan warna agar menarik. Setelah itu disebarkan. Biaya untuk mencetak dan mendistribusikannya mesti butuh berapa rupiah? Jika misalnya akan diedarkan ke 10.000 penyuluh, berarti harus mencetak 10.000 buku. Belum lagi ke pengusaha, petani, pebisnis. Akan butuh dana banyak sekali. Sehingga sangat costly.



Timbul ide bagaimana agar SOP tersebut dibuat paperless sehingga efisien. Orang juga bisa melihat gambar-gambar misalnya penyakit-penyakit pada tanaman. Maka kemudian saya berpikir bagaimana agar SOP itu dibuat dalam bentuk web.



# Jadi ini gabungan SOP dan hitungan bisnis?



Ya, kalau cuma SOP saja berarti hanya memindahkan atau mengubah dari media buku ke dalam web. Yang lebih penting lagi pertanyaannya adalah apakah ini layak secara ekonomi atau bisnis. Jika layak, berapa keuntungannya? Orang agronomi tidak terlalu mengerti tentang hal itu. Dan sebetulnya orang ekonomi juga tidak peduli pada SOP. Maka saya mengawinkan keduanya dalam bentuk software sehingga bisa dilakukan simulasi.



# Bagaimana SIKUH menghitung bisnis budidaya satu komoditas?



Dengan sistem ini, pengguna dapat melakukan simulasi terhadap aspek produktivitas, harga jual, harga dan penggunaan input produksi serta biaya per tahap dari SOP. Pengguna dengan cepat akan mengetahui dampak perubahan item tersebut terhadap keuntungan dan harga titik impas (BEP) secara akurat. Pengguna juga dapat mengetahui setiap tahap SOP budidaya dari pilihan jendela yang disediakan.



Misalnya jika dia menanam satu hektare, biaya yang dibutuhkan untuk input apa saja, berapa jumlahnya? Bagaimana cash flownya? Dalam simulasi itu, ketika satu komponen kita ubah, maka berubah pula seluruh hitungannya. Harga inputnya bisa kita ganti, untuk membuat simulasi bisnis. Lalu dengan harga tertentu, bisa diketahui rasio revenue and cost (R/C) hingga harga pokoknya. Kalau hitungan ekonomi, R/C harus lebih dari satu. Itu bisnis.



Tapi jika tidak ingin membuat simulasi, tersedia informasi dalam bentuk default. Dengan SIKUH Jika orang sudah melakukan seluruh SOP, semoga hasilnya bagus. Jika ada something wrong misalnya harga jatuh, itu juga gunanya SIKUH. Harga pokoknya bisa diketahui berapa, sehingga kalau dia jual dengan harga lebih rendah maka akan rugi. Jadi SIKUH sebagai information system.



# Bagaimana proses pembuatan SIKUH?



Membuatnya tidak gampang. Pertama, mesti mengerti usaha taninya juga memahami bagaimana kondisi di lapangan. Kami juga mengumpulkan data dan survei ke petani, untuk mengetahui bagaimana produksi usaha tani mereka, cara mereka mengusahakan usaha tani selama ini, dan sebagainya. Langkah-langkahnya cukup panjang.



# Berapa lama pembuatannya?



(Dengan berbagai proses itu), satu tahun hanya sekitar dua komoditi. Saya memulainya sekitar tahun 2010. Tahun 2013 sudah ada yang ditaruh di web.



# Apa kesulitannya?



Informasi yang ada harus dibuat dalam bahasa pemrogaman untuk dibuat simulasi tadi. Staf yang membantu saya adalah dari jurusan computer, yang menerjemahkan ke bahasa web.



# Siapa sasaran penggunanya?



Pertama, penyuluh pertanian. Ada sekitar 10 ribu penyuluh, dan mereka mesti meningkatkan kompetensi untuk hortikultura. Kemudian selain petani, juga enterpreneur muda. Hortikultura memiliki nilai tambah. Misalnya melon, sekali panen dalam tiga bulan bisa meraih keuntungan Rp 6 juta, jadi pendapatan bersih per bulan Rp 2 juta. Harga melon itu tidak pernah jatuh. Artinya, jika anak muda mengetahui itu, dia akan tertarik untuk berusaha di bidang pertanian, bukan misalnya menjadi pegawai.  Itu misi awalnya.



# Ada manfaat SIKUH bagi konsumen setelah ada hitung-hitungan ini?



Bagi petani dan pengusaha, jika dia mengetahui harga pokok lalu kemudian mampu mensosialisasikannya, informasinya simetris, maka semuanya bisa transparan. Karena bisa diketahui, pedagang mesti beli berapa ke petani. Harga juga bisa tidak terlalu bervariasi, misalnya harga cabai bisa sampai Rp 100 ribu per kilo. Sebaliknya, konsumen juga paham berapa modal yang dikeluarkan petani (agar harga tidak terlalu murah). 



# Siapa lagi yang bisa merasakan manfaat SIKUH?



Yang paling penting lagi, adalah perbankan syariah, pembiayaan syariah, dan asuransi pertanian. Pembiayaan syariah pertanian saat ini belum banyak. Nah, ketika mereka ingin memberi pembiayaan dengan skema bagi hasil, itu harus tahu SIKUH. Tanpa mengetahui berbagai langkah dan komponen biaya seperti saya gambarkan tadi, itu cuma hitung-hitungan margin saja. Kita tidak bisa menerapkan murni syariah tanpa tahu struktur biaya dan penerimaan. Penting diingat, tiap komoditi itu beda perlakuannya.



# Apa alasan pemilihan enam komoditi?



Saya memilih enam komoditas yang paling prospektif dan banyak diusahakan. Saya inginnya sudah melanjutkan membuat SIKUH untuk komoditas yang lain. Saat ini saya men-encourage Kementerian Pertanian, Pusat Penelitian Hortikultura, untuk membuat SIKUH komoditas lain. Bahkan saya berharap ada yang mengembangkan tidak cuma hortikultura, tapi juga untuk perkebunan, peternakan, atau perikanan.



Saat ini untuk 6 komoditi SIKUH tersedia untuk pilihan setengah hectare, 1 hektare, 2 hektare, dan 5 hektare.



# Kenapa mesti setengah hingga lima hektare?



Kami membuat setengah hektare untuk mengakomodasi pengusaha kecil, lalu hanya hingga 5 hektare karena komoditas yang dipilih adalah yang bisa untuk pertanian rakyat. Menanam cabai, misalnya, jika lebih dari 5 hektare, risikonya tinggi sekali. Jika satu bagian terkena fusarium, akan menimpa semua tanaman. Kalau mau mengusahakan 20 hektare, lebih baik menanam di empat tempat berbeda.



Untuk mengusahakan puluhan hektare, harus ada analisis tersendiri yang lebih teknis. Tapi dengan SIKUH sudah ada gambaran awal.



# Bagaimana dengan analisis Risiko?



Untuk konten, yang belum dimasukkan itu analisis risiko. Itu bisa kami buat sebagai masukan. Misalnya kekurangan curah hujan sekian, maka bagaimana dampaknya terhadap produktivitas dan penerimaan. Lalu dibuat jendela-jendela untuk simulasi risiko.



# Bagaimana mendapatkan SIKUH?



Bisa buka SIKUH di Google atau di Pusat Data dan Informasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Siapapun bisa menggunakan. Ada user name dan password yang bisa disebarkan.



# Apakah bisa dibuat aplikasi di Android?



Sebetulnya bisa, tapi effort-nya terlalu banyak. Kenapa? Karena komponen biaya dan simulasinya banyak. Inputnya juga beragam. SIKUH terlalu besar.



Menurut kami, untuk membuat ke Android belum jadi prioritas. Toh, untuk membuka internet tidak harus menggunakan Android juga kan? Dengan telepon genggam, orang bisa buka internet. Jadi SIKUH bisa dibuka dengan ponsel. Tidak masalah.



# Tolong digambarkan, bagaimana sebenarnya kondisi hortikultura di Indonesia?



Dengan pendapatan masyarakat yang meningkat maka konsumsi produk hortikultura juga meningkat. Cuma, Indonesia baru agak concern pada hortikultura itu sekitar tahun 2000-an. Kita terlambat. Akibatnya, saat permintaan produk buah dan sayur tinggi kita tidak bisa memenuhinya sendiri. Makanya impor besar dan neraca perdagangannya sejak dulu hingga sekarang selalu defisit.



# Apa saja masalah yang dihadapi bidang hortikultura Indonesia?



Kita memiliki tiga persoalan yaitu tidak memiliki produktivitas yang banyak, kualitas yang seragam, dan masalah di logistik serta distribusi. Apalagi produk pertanian kan cepat rusak.



Maka pemerintah harus mengusahakan dengan berbagai upaya untuk memperbaiki distribusi dan penanaman produk hortikultura di banyak tempat. Cabe atau bawang jangan cuma di pulau Jawa, misalnya. Untuk memperbaiki kualitas produk, juga tergantung pada bibit. Bibitnya harus seragam dan tersedia dengan baik. Kita kurang di aspek itu.



Produksi kurang, karena kita tidak punya orchard atau perkebunan besar. Saat ini salah satu kesibukan saya bagaimana kita bisa bikin orchard atau perkebunan besar buah.



Soal harga, ini terkait masalah efisiensi dan transparansi informasi, dan masih banyak lagi. Belum lagi masalah kelembagaan. Hortikultura banyak masalahnya dan klasik.



 



IKA CHANDRA

Peristiwa