20 Feb 2017

Mesty Ariotedjo, Setelah Ruteng Terbitlah WeCare

Mesty Ariotedjo, Pendiri Wecare.id

Mesty Ariotedjo, Pendiri Wecare.id

KOMUNIKA, Jakarta - Dwi Lestari Pramesti Ariotedjo atau dipanggil Mesty Ariotedjo akrab dengan kamera dan layar kaca. Ia menjadi model produk kecantikan. Wajah lembutnya menghiasi berbagai sampul majalah fashion. Di lain waktu, ia memetik harpa, alat musik yang sedikit orang saja mampu memainkannya. Selain harpa, ia juga piawai memainkan piano dan flute.




Dunia Mesty yang lain adalah seorang ahli medis. Profesi sebagai dokter melemparnya ke Ruteng, di sebuah kabupaten di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada 2012-2013, ia bertugas di rumah sakit yang menangani tiga kabupaten, dengan jumlah tenaga kesehatan yang amat terbatas.




Satu tahun di NTT, wanita kelahiran 25 April 1989 ini tergugah. Begitu banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan terutama di bidang kesehatan. Ia yakin, ada yang mampu ia perbuat.




Dengan bantuan teknologi, pada 2015 ia membangun WeCare.id, sebuah situs crowdfunding. Web ini dibentuk khusus untuk mengumpulkan dana bagi pasien-pasien di daerah terpencil yang memerlukan akses pelayanan kesehatan. Mesty menjalin kerja sama dengan dokter-dokter di wilayah perifer agar bisa terhubung dengan WeCare.id.




Ia memberi contoh. Keuntungan yang ia dapat dari mini albumnya bertajuk "Lukis Indah Mimpi" dan konser musiknya "Children in Harmony", dialirkan ke Ruteng.




Saat ini, Mesty tengah menjalani program pendidikan dokter spesialis (PPDS) di Departemen Ilmu Kesehatan Anak – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Waktunya sebagian besar untuk aktivitas medisnya. "Sekitar pukul 5 pagi hingga jam 6 sore saya di rumah sakit. Terkadang menginap dan pulang baru keesokan harinya," ujar Mesty. Meski demikian, ia berusaha menyempatkan waktu untuk dunianya yang lain. "Kemarin (pertengahan Januari) habis pemotretan," ujarnya.




Berikut petikan perbincangan dengan Mesty :




# Bagaimana ide untuk membuat crowdfunding WeCare.id muncul?
Ide WeCare.id muncul ketika saya bekerja sebagai dokter internship di Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Saat itu, hampir semua penduduk di wilayah tersebut memiliki kartu jaminan kesehatan masyarakat. Namun fasilitas kesehatan di daerah tentunya tidak optimal sehingga pasien harus dirujuk ke rumah sakit besar untuk penatalaksanaan. Tentunya pengiriman pasien membutuhkan biaya yang besar sehingga banyak keluarga pasien yang mengurungkan niat. Pasien akhirnya tetap diam di tempat, dan kebanyakan meninggal.
Di satu sisi, banyak pihak di sekitar saya yang sering bertanya ke mana dapat menyalurkan sumbangan yang transparan dan manfaatnya nyata. Sehingga saya pikir di sini ada supply dan demand yang sesuai dengan crowdfunding.




# Apa tantangan terbesar saat membangun WeCare.id?
Tantangan terbesar adalah waktu. Saya harus juggling antara PPDS dan mengerjakan WeCare.id. Saya sangat bersyukur memiliki tim yang pengertian dan sering mengingatkan saya untuk setidaknya tetap menjaga komunikasi dengan baik dan keep updated dengan WeCare.id. Mereka juga sangat mengerti kesibukan PPDS sehingga sangat support saya untuk berhasil menyelesaikan studi.




# Berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga WeCare.id berjalan?
Dari awal ide hingga WeCare.id diluncurkan sekitar 2 bulan.




# Dengan siapa Anda mengembangkan WeCare.id?
Saya mendirikan WeCare.id dengan Gigih Septianto, seorang yang ahli di bidang IT serta teman-teman lain total sembilan orang. Kemudian Ade Nurul bergabung sebagai Project Manager, dan volunteer hingga saat ini.




# Hingga saat ini sudah berapa pasien dan donor yang terdaftar di WeCare.id?
Hingga saat ini ada sekitar 153 pasien dari dari Sumatera hingga Papua yang dibantu melalui WeCare.id. Jumlah donor adalah 3.223 dengan total donasi Rp 1,3 miliar.




# Bagaimana respon dari lingkungan Anda saat membangun WeCare.id?
Antusias sekali. Mereka ingin sekali membantu atau beramal tetapi sering sekali tidak tahu ke mana harus menyalurkan dan lembaga mana yang terpercaya. Mereka sangat senang karena WeCare.id transparan dan WeCare.id selalu mengirimkan newsletter setiap bulannya untuk meng-update mengenai keadaan pasien




# Bagaimana Anda mengembangkan jaringan di antara teman sejawat se-Indonesia dalam mendapatkan kandidat pasien dan menyaringnya?
Saat awal kami bekerja sama dengan Pencerah Nusantara, sebuah proyek yang mengutus dokter-dokter ke daerah terpencil. Selain itu kami bekerja sama dengan rekan-rekan dokter yang kami kenal sehingga lebih mudah untuk verifikasi dan terpercaya.




# Apakah ada batasan maksimal dana yang bisa diterima pasien?
Secara umum kami membatasi sebesar Rp 20 juta per pasien. Namun kami menganalisis kasus per kasus, apabila kasus tersebut kemungkinan terkumpul dana besar dan impact terhadap keselamatan orang tersebut juga besar, maka kami berpikir kembali. Seperti contohnya pasien bayi seorang penjaga masjid membutuhkan biaya Rp 60 juta dan jika tidak ada dana orang tua akan membawa pulang secara paksa si bayi. Dalam tiga hari kami berhasil mengumpulkan dana untuk pasien tersebut.




# Kerja sama apa saja yang dijalin dengan WeCare.id dengan stakeholder kesehatan?
Kami sudah bekerja sama antara lain dengan dinas kesehatan Jawa Barat dan Rumah Sakit Siloam.




# Selain donasi lewat web, cara apa yang ditempuh WeCare.id untuk menggalang dana?
Kami berkolaborasi dengan produk-produk seperti PVRA shoes, AVA clothing line, dan brand-brand lainnya dengan profit sharing. Selain itu kami juga mengadakan event lelang bersama Huntstreet.




# Apa saja tantangan WeCare.id dan apa target yang ingin dicapai?
Tantangan WeCare.id yang terutama kami rasakan adalah sulitnya memperoleh dana untuk membuat skala WeCare.id lebih besar lagi. Target kami ingin membuat WeCare.id sustainable dan mampu mencakup seluruh wilayah




# Ceritakan pengalaman menarik yang Anda alami bersama WeCare.id dalam membantu pasien…
Pengalaman menarik dengan WeCare.id banyak sekali, dan kami jadi dekat secara personal dengan keluarga pasien. Kami sering berkirim pesan, saling mendoakan. (Itu) memberi energi yang positif sekali.




# Bagaimana Anda bisa begitu peduli pada kemanusiaan?
Ibu saya sedari saya kecil selalu menunjukkan sikap ramah dan hangat, terutama kepada orang kecil seperti pemulung, atau pedagang kaki lima. Ibu sering berdonasi kepada mereka dan juga kepada yatim piatu. Mungkin dari situ saya melihat bahwa merupakan kebahagiaan yang tak ternilai ketika kita membantu orang lain.




# Musik, modeling, medis – bagaimana mengolaborasikan bidang-bidang yang digeluti?
Saya tidak pernah bercita-cita menjadi semuanya. Bisa dikatakan saya orang yang oportunis (sering kali kata ini memiliki konotasi negatif). Namun prinsip saya adalah menjalankan sebaik-baiknya yang saya miliki dan dengan pilihan serta kesempatan yang ada saat itu. Kemudian saya menjalani aktivitas saya tentunya dengan skala prioritas.




# Sejak kapan menyukai musik?
Saya suka bermain alat musik dari kecil. Sejak usia 4 tahun saya bermain piano dan saya juga mencoba alat musik lainnya biola, flute, bahkan gamelan. Saya justru baru bermain harpa ketika kuliah. Mungkin karena masih jarang yang bermain harpa sehingga banyak orang lebih mengenal saya sebagai pemain harpa.




# Bisa ceritakan mimpi Anda saat masih kecil?
Saat masih kecil saya ingin menjadi guru karena saya senang mengajari teman sekolah saya dari tidak bisa menjadi bisa.




# Menurut Anda, seperti apakah sosok dokter yang ideal?
Dokter yang ideal adalah dokter yang menyadari dirinya akan kemampuanya dan keterbatasannya. Apabila ia tidak mampu ia akan lebih belajar lagi dan menyerahkan kepada yang lebih mampu. Selain itu dokter yang baik juga harus berani untuk mengatakan tidak pada yang dirasa tidak tepat dan memperjuangkan kebenaran dan keselamatan pasien.



IKA CHANDRA W.

Peristiwa